Kolaborasi Perkuliahan Mikro Ekonomi Intermediate antara Universitas Negeri Surabaya bersama Universitas Sebelas Maret (UNS)

Surabaya – Universitas
Negeri Surabaya (Unesa) melakukan kolaborasi dengan Universitas Sebelas Maret
(UNS) pada Senin, 14 November 2022 dalam mata kuliah Mikro Ekonomi Intermediate
yang diampu oleh Prof. Dr. Jun Surjanti., S.E., M.Si dengan mengusung materi “Perfect
Market Competition". Perkuliahan ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa
S2 Pendidikan Ekonomi 2022 secara daring melalui aplikasi zoom meeting.
Proses pembelajaran dilaksanakan menggunakan metode Case Based Learning
yang berpusat pada mahasiswa, sehingga materi disampaikan langsung oleh
mahasiswa S2 Pendidikan Ekonomi 2022 Unesa.
Sebagai calon guru
ekonomi, pasar persaingan sempurna sangat penting untuk dipelajari karena melalui
pembelajaran ini mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan sebagai pelaku pasar
yang dapat menentukan strategi penentuan harga dan jumlah output secara
rasional. Struktur pasar ini dipandang paling ideal menurut para ahli ekonomi, karena
dapat menciptakan efisiensi yang sangat tinggi dalam produksi barang/jasa.
“Dalam pasar
persaingan sempurna terdapat beberapa kelebihan antara lain, 1) harga
benar-benar terbentuk melalui mekanisme harga yang terbentuk tanpa campur
tangan pemerintah maupun asosiasi produsen. 2) Dalam jangka panjang, akan
terjadi harga yang menguntungkan konsumen karena harga akan terbentuk dari
biaya rata-rata yang minimum. 3) tidak memerlukan adanya iklan/advertensi, karena
jenis barang, kualitas barang dan harganya sama/hampir sama” Penjelasan dari
mahasiswa program studi S2 Pendidikan Ekonomi Unesa 2022.
Prof. Dr. Jun
Surjanti., S.E., M.Si menambahkan contoh implementasi pasar persaingan sempurna
pada studi Ekowisata Mangrove Surabaya. “Diasumsikan dalam studi Ekowisata
Mangrove Surabaya hanya terdapat produk buah. Misalnya, harga pasar buah
Mangrove per kilogram sebesar Rp 25.000,00. Dengan asumsi faktor-faktor
permintaan dan penawaran tidak berubah, jika kita berproduksi dengan biaya Rp
25.000,00 maka kita tidak mendapatkan laba. Namun, jika kita dapat melakukan
efisiensi dan berhasil memproduksi dengan biaya Rp 24.000,00 maka kita akan mendapatkan
laba dan tetap bertahan di pasar”.